Wisata Candi Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia - dipastoria.com

Breaking

logo

Wisata Candi Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia

Wisata Candi Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia

Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah candi Hindu tercantik di dunia. Candi ini merupakan bagian dari suatu gugusan percandian yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada tahun 1991. Gugusan ini terdaftar dalam World Heritage List (Daftar Warisan Dunia) dengan nomor C 642 dan disebut secara resmi sebagai Prambanan Temple Compound (Gugusan Percandian Prambanan). Seutuhnya gugusan ini terdiri atas Candi Prambanan dan juga Candi Sewu yang berlatar belakangkan agama Budha. Di samping itu di dalam areal Taman Wisata Candi Prambanan, masih terdapat 2 (dua) candi Budha lainnya yaitu Candi Lumbung dan Candi Bubrah.

Sejarah
Candi Prambanan dibangun sekitar abad 9 masehi. Peresmiannya dilakukan oleh Rakai Pikatan, maharaja Mataram Kuno, pada tahun 856 Masehi (778 Saka). Bangunan suci ini dipersembahkan untuk Dewa Siwa dan pada saat itu dan pada saat itu dinamakan Siwagrha (Rumah untuk Siwa). 

Candi ini memiliki 3 (tiga) halaman yang tersusun secara konsentris atau memusat dengan halaman I nya yang paling sakral terletak di bagiah tengah/ pusat. Jumlah candi di halaman I ada 16 buah, di halaman II sebanyak 22 buah, sedangkan di halaman III tidak ditemukan sebuah candipun. Dengan demikian jumlah candi di kompleks percandian ini keseluruhannya pada mulanya sebanyak 240 buah.

Pada halaman I terdapat 16 buah candi yang terdiri atas 3 (tiga) candi utama, yaitu Candi Brahma, Candi Siwa, dan Candi Wisnu, 3 Candi Wahana (binatang kendaraan ketiga dewa tersebut), 4 (empat) Candi Kelir, 2 (dua) Candi Apit, dan 4 (empat) Candi Patok. Kedudukan Siwa sebagai dewa tertinggi dalam agama Hindu tercermin pada ukuran bangunan candi di mana Candi Siwa merupakan candi yang berukuran paling besar dan paling tinggi (47,6 meter), sedangkan Candi Brahma dan Candi Wisnu masing-masing tingginya hanya 33 meter. 

Candi Siwa memiliki 4 (empat) buah bilik. Yang menghadap ke timur berisi arca Siwa Mahadewa, yang menghadap ke utara berisi arca Durga Mahisasuramardhini, yang menghadap ke barat berisi arca Ganesha, dan yang menghadap selatan berisi arca Agastya. Candi Brahma dan Candi Wisnu masing-masing hanya memiliki 1 (satu) buah bilik dengan arca Brahma dan arca Wisnu di dalamnya.

Candi-candi di halaman I sangat kaya dengan ragam hias
Hiasan yang paling khas berupa relief seekor singa yang diapit oleh 2 (dua) Kalpataru (pohon kehidupan) dengan 2 (dua) makhluk kayangan yang disebut Kinara-Kinari di kanan dan kiri masing-masing pohon tersebut. Kinara-kinari sering juga digantikan dengan 2 (dua) orang resi atau binatang-binatang lainnya. Ragam hias ini hanya terdapat dii Candi Prambanan sehingga disebut dengan ‘motif Prambanan. Pada bagian sisi dalam pagar langkan Candi Siwa dan Candi Brahma dipahatkan dengan indahnya relief cerita tentang Rama (Ramayana). Sedangkan pada Candi Wisnu dipahatkan relief Kresnayana.

Pada halaman II terdapat 224 buah Candi Perwara yang tingginya sekitar 14 meter dan tersusun dalam 4 (empat) deret, meskipun pada saat ini sudah banyak yang hilang dan hanya tersisa 117 buah. Sebagian besar Candi Perwara tersebut masih berupa runtuhan dan baru 2 (dua) buah yang telah selesai dipugar. Seluruh candi di halaman ini menghadap ke arah mata angin dengan posisi membelakangi halaman.

Relief Tari Ramayana
Relief tari Ramayana

Relief-relief yang terpahat pada dinding-dinding langkan ketiga candi utama di halaman I menyajikan cerita-cerita dalam ajaran Hindu yang mengandung nilai-nilai etis dan heroik berupa keberanian, tragedi, kesengsaraan, dan juga percintaan. Relief Ramayana pada pagar langkan Candi Siwa dan Candi Brahma diangkat ke dalam bentuk sendratari kolosal yang menakjubkan dan dipentaskan pada malam hari di sebuah panggung terbuka. Pementasan ini dibawakan oleh sekitar 250 penari profesional dengan Candi Prambanan sebagai latar belakangnya. Panggung terbuka tersebut terletak di sebelah barat Candi Prambanan.

Legenda Roro Jonggrang
Patung ini yang disebut Roro Jonggrang via www.lihat.co.id

Legenda ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Bandung Bondowoso yang ingin menikahi seorang dara cantik jelita bernama Roro Jonggrang, Puteri Prabu Boko. Sang puteri berusaha menolak secara halus dengan mengajukan permintaan agar dibangunkan 1000 (seribu) candi hanya dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya lalu mengerahkan pasukan jin untuk membantunya. Menjelang pagi ketika mengetahui bahwa Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan pekerjaannya.

Roro Jonggrang membangunkan para wanita untuk memukul lesung (alat penumbuk padi) secara beramai-ramai serta membakar jerami sehingga mengesankan solah-olah fajar telah menyingsing. Hall ini membuat para jin ketakutan pergi meninggalkan pekerjaan mereka tanpa sempat menyelesaikan arca yang ke seribu. Mengetahui tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso menjadi marah dan mengutuk Roro Rjonggrang menjadi arca batu untuk melengkapi arca yang belum sempat dibuat oleh para jin tersebut. Akhirnya Roro Jonggrang berubah menjadi sebuah arca wanita yang sering disebut arca Roro Jonggrang. Namun sebenarnya arca tersebut adalah arca Durga Mahisasuramardhini, isteri Dewa Siwa yang berada di dalam bilik bagian utara Candi Siwa. Karena legenda itulah Candi Prambanan termashyur pula dengan sebutan Candi Roro Jonggrang.

Candi Sewu
Candi Sewu via upload.wikimedia.org

Percandian ini terletak sekitar 500 meter di sebelah utara Candi Prambanan. Prasasti-prasasti kuno yang mengandung informasi tentang Candi Sewu adalah Prasasti Kelurak yang bernagka taun 782 M dan Prasasti Manjusrigrha yang berasal dari tahun 792 M. Prasasti Kelurak yang ditemukan di dekat kompleks Candi Lumbung berisi uraian penghormatan kepada Tri Ratna serta peringatan pendirian arca Manjusri. Sedangkan di dalam Prasasti Manjusrigrha disebutkan adanya beberapa kegiatan penympurnaan prsada bernama Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka atau 792 M. Dari kedua prasasti itu, selain diketahui bahwa agama Budha merupakan latar belakang pembangunan Candi Sewu, dapat diperkirakan pula periodesasi dan gambaran bahwa candi ini pernah mengalami perkembangan arsitektural yang terkait dengan aspek teknik dan aspek simbolis. Menurut para ahli pendirian kompleks Candi Sewu diprakasai oleh Rakai Panangkaran, raja paling lama memerintah kerajaan Mataram Kuno yaitu selama 38 Tahun.

Kompleks Candi Sewu tersusun dari 29 (dua puluh Sembilan) buah bangunan yang terdiri atas sebuah candi induk, 8 buah Candi Apit, dan 240 buah Candi Perwara. Candi utama terletak di halaman I dan dengan denah palang bersudut 20, memiliki 1 buah bilik utama, dan 4 buah bilik penampil. Pintu utama berada pada sisi timur. Candi Perwara dan Candi Apit terletak pada halaman II. Kelompok Candi Perwara tersusun dalam 4 deret yang membentuk persegi panjang yang kosentris. Terdapat 8 buah arca Dwarapala (raksasa penjaga pintu masuk) yang terletak pada empat penjuru pintu masuk halaman II, masing-masing 2 buah arca dalam posisi saling berhadapan. Arca-arca ini berukuran besar dan dibuat dari 1 batu utuh (monolith).

Diantara Candi Prambanan dan Candi Sewu terdapat gugusan Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Keduanya beratar belakang agama Budha. Candi Lumbung terdiri atas sebuah candi induk dan 16 buah candi Perwara. Candi-candi perwara tersebut berjajar membentuk segi empat mengelilingi candi induk. Denah candi induk berbentuk palang persegi 20 dengan penampil ke empat sisinya. Candi Bubrah yan berdenah bujur sangkar berukuran 18.50 meter persegi ini menghadap kearah timur. Keberadaan candi-candi Budha ini termasuk Candi Asu (Gana) di sebelah timur kompleks Candi Sewu diyakini saling memiliki keterkaitan yan dilandasi oleh konsep simbolisasi mikro dan makrokosmos yang diwujudkan melalui mandala (tata letak percandian) yang menempatkan kompleks Candi Sewu sebagai pusatnya.

Keberadaan candi-candi di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan bukan hanya megah dan indah dari segi arsitekturnya saja, melainkan juga menyimpan pengajaran yang penting bagi generasii sekarang maupun mendatang. Aspek-aspek berniai yang dapat kita pelajari antara lain adalah teknologii rancang bangun kondisi alam dan lingkungan, serta kehidupan sosial di masa lalu. Bahkan keberadaan Candi Prambanan yang berlatar belakang agama Hindu berdekatan dengan candi-candi dengan berlatar belakang Budha.

Fakta ini memperlihatkan tingginya toleransi beragama pada masa itu. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa pada masa lampau kawasan Prambanan memiliki keistimewaan bila ditinjau dari aspek lingkungan maupun potensi spiritual yang dikandungnya. Ini memberikan gambaran kepada kita tentang karakter yang sangat religius dari kawasan Prambanan pada masa itu.

Peta Candi Prambanan ada dibawah ini,
Peta Candi Prambanan via Borobudurpark.co.id

Ayo temukan Candi Prambanan di aplikasi Googlemaps, sekarang  di bawah ini sob? :)

PT. TAMAN WISATA CANDI
BOROBUDUR, PRAMBANAN & RATU BOKO (PERSERO)
Jl. Raya Yogya- Solo km 16 Prambanan Yogyakarta 55571
Telp, 0274 496 402
corporate@borobudurpark.co.id

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact

Trending